Mau backlink gratis? Submit URL Kamu di sini!

Melek Teknologi – Memahami Cara Raksaksa Teknologi Dalam Meraup Untung

Dalam keseharian sebagian orang, tentunya tidak luput dari aplikasi jejaring sosial, baik itu Facebook, Twitter, TikTok, YouTube, ataupun Instagram.

Dalam dunia modern seperti sekarang, banyak orang yang tidak bisa lepas dari sosial media. Karena bagi mereka sosial media adalah sebuah kebutuhan utama yang sulit untuk ditinggalkan.

Dengan adanya sosial media, kita dapat dengan mudah mengetahui berita dari seluruh dunia hanya dalam genggaman tangan bahkan jari ‘jempol’.

Tentunya hal tersebut sangatlah membantu bagi orang yang memiliki tingkat aktifitas yang cukup padat agar tetap update dengan apa yang terjadi di sekitar. Seperti pegawai kantor ataupun seorang yang suka berbisnis. Baik di dunia digital, maupun internet.

Jika kita seorang yang tinggal jauh dengan keluarga dan saudara, sudah pasti sosial media sangatlah penting, karena sosial media sangatlah membantu kita menjalin komunikasi dengan kerabat yang jauh.

Pada bulan Februari 2004, Mark Zuckerberg bersama dengan Andrew McCollum, Dustin Moskovitz, Eduardo Saverin, Chris Hughes mendirikan sebuah situs jejaring sosial bernama The Facebook, cikal bakal Meta sekarang.

Bagaimana cara kerja raksaksa teknologi dalam meraup untung?

Facebook Di Awal Berdiri

Di awal perkembangannya, facebook dengan cepat dapat menyaingi aplikasi yang telah dulu berdiri seperti MySpace, Friendster, dan Second Life.

Facebook memberikan fitur yang cukup unik jika dibandingkan dengan kompetitornya terdahulu, dengan facebook kita bisa menulis sebuah artikel/cerpen, membuat status, dan mengupload foto serta membagikannya kepada teman dan kerabat.

Dengan semakin berkembangnya platform besutan Mark Zuckerber dan Eduardo Saverin tersebut, tentunya tidak sedikit Pro dan Contra yang datang dari berbagai kalangan komunitas di seluruh dunia. Karena seperti yang diketahui, sudah menjadi rahasia umum jika Meta, sebagai perusahaan induk facebook menjual data para penggunanya kepada para pengiklan guna meningkatkan target penjualan perusahaan yang memasang iklan di platform tersebut.

Bagaimana Cara Mereka Mendapatkan Data Penggunanya?

Setiap apapun yang kita posting di sosial media tidak akan pernah bisa hilang meskipun kita telah menghapus postingan tersebut.

Ketika kamu menghapus posting di instagram, twitter, tiktok, ataupun facebook, pastinya kamu berpikir bahwa postingan tersebut sudah hilang bukan? Salah!

Sebagai contoh ketika kita memposting status di facebook, meng-upload foto di Instagram, ataupun menulis tweet di twitter, data tersebut akan tetap tersimpan di server hingga bertahun-tahun lamanya.

Tentunya mereka melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan, karena dengan data yang telah kita sumbangkan, mereka dapat melakukan penelitian tentang kebiasaan para pengguna platform sosial media tersebut.

Baca juga: Alternatif Google Adsense Terbaiik

Bagaimana Cara Mereka Mengolah Data Penggunanya?

Mungkin bagi sebagian orang, posting status kita tidalkah penting. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi mereka. Mereka akan tetap mengumpulkan apapun yang telah kita posting sejak pertama kali bergabung ke platform tersebut, untuk kemudian dijadikan sebagai sample data guna mempelajari kebiasaan kita sehari-hari.

Salah satu contoh nyata adalah ketika kita menggunakan instagram, mencari sepatu nike model terbaru yang ingin kita beli.

Beberapa hari kemudian, ketika kita membuka YouTube, dan muncul iklan sepatu dengan merk yang sama atau tipe lain yang menarik perhatian kita, sehingga kita pun melakukan klik pada iklan tersebut.

Study kasus di atas adalah salah satu contoh bagaimana para pemilik situs jejaring sosial mengolah data penggunanya untuk menemukan apa kebiasaan sehari-hari para penggunanya, sehingga mereka dapat memunculkan iklan yang lebih relevan untuk menarik perhatian penggunanya.

Mereka mempelajari secara menyeluruh tentang apa saja yang kita lakukan di platform tersebut sehingga kemudian menawarkan apa yang memang sedang kita butuhkan seperti kasus sepatu di atas.

Facebook akan melacak setiap IP Address yang terhubung ke aplikasi mobile maupun situs mereka dan mempelajari secara cermat tentang apa yang sedang kita lakukan, topik yang sedang kita ikuti, produk apa yang sedang ingin kita beli, dan berbagai hal lainnya yang kita lakukan di platform mereka seperti WhatsApp, Facebook Messenger, dan Instagram.

Bagaimana Cara Raksaksa Teknologi Jejaring Sosial Meraup Untung?

Perlu digaris bawahi, ketika kita menggunakan suatu platform (dalam kasus ini adalah jejaring sosial) secara gratis, produk mereka bukanlah platform tersebut, melainkan para kita sebagai pengguna.

Apa maksudnya?

Sebagai contoh, facebook dan instagram adalah layanan yang digratiskan oleh Meta sebagai perusahaan induk. Lalu dari mana mereka mendapatkan untung hingga miliaran bahkan triliunan rupiah setiap bulannya? Jawabannya tentu saja dari iklan.

Bagaimana caranya?

Jika kita sedang berselancar di facebook, ataupun twitter, tentunya kita pernah melihat sebuah post dengan badge ‘sponsored’ seperti di bawah ini:

Contoh tampilan iklan di facebook yang dipasang oleh Google Ads
Contoh iklan di bagian siderbar kanan facebook yang dipasang oleh TikTok

Dari kedua contoh di atas, tentunya baik Google maupun TikTok telah membayar biaya iklan kepada facebook agar iklan mereka dapat tayang kepada pengguna/audience facebook yang sudah ditargetkan.

Contoh lainnya adalah twitter seperti gambar di bawah ini:

Iklan McDonald di Twitter timeline
Iklan Microsoft di Twitter timeline.
Iklan Bank BRI di Twitter pada bagian explore

Dari contoh Facebook dan Twitter di atas, tentunya iklan tersebut akan mengarah kepada audiens yang sudah ditargetkan oleh pihak pengiklan, yaitu McDonald, Bank BRI, Microsoft, serta Google.

Pihak pengiklan tentunya sudah mengatur target iklan ditujukan untuk siapa, negara mana, usia berapa, kebiasaan user tersebut apa, apa yang sedang dicari oleh user di platform tersebut, dsb.

Tanpa adanya fitur-fitur di atas, tentunya biaya iklan yang tidak kecil jumlahnya akan terbuang sia-sia karena mereka tidak akan mendapatkan engagement dari iklan yang ditayangkan.

Contoh setup campaign di facebook ads

Setup Campaign pada Facebook Ads

Fitur-fitur di atas, tidak datang hanya dalam kurun waktu satu atau dua bulan, mereka butuh melakukan riset yang mendalam tentang bagaimana kebiasaan para pengguna di platform mereka agar mendapatkan hasil yang akurat.

Baik Facebook maupun platform jejaring sosial lainnya telah berhasil membuat fitur tersebut sehingga memungkinkan para pengiklan mendapatkan hasil yang lebih akurat dalam memasarkan produk mereka.

Jika kita cermati lagi kepada poin ‘sepatu’ di atas, tentunya sekarang kita akan paham dari mana facebook, twitter dan youtube tau jika kita sedang mencari sebuah sepatu? bukankah kita tidak pernah memberitahun kepada siapapun jika kita ingin membeli sepatu?

Jawabannya tentu saja dengan data. Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, tentunya tidak sulit untuk mereka menemukan apa yang disukai oleh penggunanya, sehingga mereka akan dengan cepat menangkap user behaviour atau kebiasaan pengguna untuk kemudian disajikan kembali kepada pengguna.

Berdasarkan poin-poin di atas, jika kita mau berpikir tentunya kita menyadari bahwa jejaring sosial mendapatkan untung yang sangat banyak jumlahnya dari para pengiklan yang memanfaatkan data kita untuk digunakan sebagai target pemasaran/marketing.

Baca juga: Twitter Sebagai Media Afiliasi Negara (Senjata)

User Privacy

Jika kita membahas privasi para pengguna, tentunya hal tersebut akan sangat mengganggu untuk mereka yang sering membahas hal-hal sensitif seperti transaksi bisnis, transfer bank, hingga persoalan privasi lainnya.

Mereka tidak akan menghapus data kita 5 tahun atau bahkan 10 tahun yang lalu yang pernah kita posting secara private di platform tersebut. Data tersebut akan tetap tersimpan di server yang kemudiakan akan dipelajari kembali baik menggunakan Artificial Intelligence, ataupun Machine Learning, dsb untuk kepentingan perusahaan tersebut.

User Privacy atau privasi pengguna bukanlah hal yang penting jika kita sudah berbicara soal sosial media. Karena memang nyatanya sebagian pengguna memilih untuk tidak peduli dan bodo amat dengan apa yang disebut privasi pengguna. Mereka akan dengan mudah menyerahkan data pribadinya kepada para penyedia layanan tersebut tanpa berpikir panjang akibatnya di kemudian hari.

Beberapa dari pengguna bahkan tidak sadar (atau memilih untuk bodo amat) jika mereka telah diawasi secara cermat oleh sebuah sistem yang senantiasa akan tahu apapaun yang dilakukan oleh pengguna tersebut.

Bahkan yang lebih parah adalah, para penyedia layanan tersebut akan dengan mudah mendengarkan percakapan yang sedang kita lakukan baik itu dengan kekasih, orang tua, ataupun rekan bisnis yang seharusnya tidak boleh ada orang lain yang tau. Bukankah itu mengerikan?

Bagaimana Cara Mengurai Aktifitas Tracking?

Lalu bagaimana cara mengurangi aktifitas tracking yang dilakukan oleh para penyedia layanan jejaring sosial tersebut?

Di dunia modern seperti sekarang ini, memanglah sulit untuk lepas dari peran jejaring sosial seperti di atas. Karena mereka telah mengakar selama bertahun-tahun dan kita telah terlalu jauh masuk kedalam kebiasaan baru dalam bersosialisasi menggunakan bantuan teknologi.

Terlepas dari pro dan kontra, memang sangat tidak bijak rasanya jika penulis menyarankan kepada para pembaca agar menghapus aplikasi mereka bukan?

Oleh karenanya, tentunya juga tidak ada salahnya jika kita mengurangi penggunaan sosial media tersebut, terutama dalam hal berbagi. Baik itu berbagi kesedihan, maupun kesenangan. Karena kita tidak tahu jika suatu saat nanti orang lain akan melihat moment tersebut dan menyebabkan masalah kepada kita di masa mendatang.

Salah satu contoh kasus yang paling sering terjadi adalah perusahaan yang menemukan calon karyawannya mengupload foto ataupun membuat status di sosial media yang mana status tersebut bertentangan dengan etika/norma dari perusahaan tersebut. Dimana akhirnya perusahaan membatalkan niat untuk merekrut si kandidat karena dinilai dapat membocorkan informasi dan data rahasia perusahaan kepada publik/kompetitor nantinya.

Kesimpulan

Sosial media/jejaring sosial bagaikan pisau bermata dua. Akan sangat bermanfaat jika digunakan dengan baik dan bijak, meskipun hal tersebut adalah mustahil.

Mereka akan merekomendasikan topik-topik yang bahkan sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh kita sehingga membuat kita penasaran terhadap topik tersebut. Because that’s how it works!

Leave a Comment