Mau backlink gratis? Submit URL Kamu di sini!

Apa Yang Terjadi Dengan GoPro Sekarang?

Sejarah Awal GoPro

Masih ingat dengan GoPro? Sebuah camera action yang sangat populer pada tahun 2014 dan 2015.

GoPro memperkenalkan kita tentang cara baru untuk merekam momen-momen berkesan yang memacu adrenalin, menggunakan sebuah camera action yang simpel.

Karena ukurannya yang terbilang kecil, GoPro sangat cocok digunakan oleh orang2 yang menyukai aktivitas outdoor, seperti halnya surfing, skydiving, scuba diving, dan sejenisnya. 

bahkan hingga saat ini, gopro bisa dibilang masih sangat popular di kalangan orang-orang yang menyukai olahraga yang menantang adrenalin, dan juga para vlogger.

Akan tetapi, hal yang sama tidak berlaku untuk investor.

Pada tahun 2014, banyak investor yang membeli saham gopro hanya dalam hitungan bulan. Akan tetapi, nilai saham gopro tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan. 

Lalu apa yang terjadi dengan gopro saat ini?

Jika kita melihat kembali sejarah GoPro. mereka berawal dari seseorang yang bernama Nick Woodmen, seorang warga negara california amerika serikat yang sedang melakukan treveling pada tahun 2002 di australia dan indonesia

Selama perjalanan tersebut, Nick yang suka berselancar ingin mengabadikan moment-moment yang dilaluinya.

Nick kemudian mengambil sebuah lensa 35 milimeter dan mengikatnya di pergelangan tangannya menggunakan sebuah tali karet.

Seperti yang kita ketahui, cara yang dilakukan Nick tersebut tidak efektif, karena hasil rekaman yang didapat sangat mengecewakan.

Karena pada saat itu, untuk merekam sebuah kegiatan yang dilakukan di dalam air, kita harus membeli sebuah camera waterproof dengan harga yang cukup mahal, dan tentunya dengan bentuk dan camera yang tidak praktis.

Hingga akhirnya, Nick memutuskan untuk mencari solusi tanpa harus membeli camera waterproof yang ada pada saat itu.

Nick kemudian membuat sebuah tali strap menggunakan mesin jahit ibunya, di mana tali tersebut ia design untuk menjaga keseimbangan camera di tangannya.

Nick percaya bahwa, di luar sana ada banyak penggemar olahraga extreme yang ingin mengabadikan moment-moment langka seperti halnya Nick.

Sehingga, pada tahun 2002, Nick akhirnya meluncurkan sebuah brand yang kemudian ia beri nama gopro. 

Di mana arti dari nama brand tersebut (Go Professional), adalah sebuah gagasan dari Nick, bahwa camera tersebut dapat merekam moment-moment penggunanya dengan hasil yang luar biasa layaknya seorang cameramen professional.

Beruntungnya Nick, ayahnya yang bernama Dean, adalah salah satu co-founder dari sebuah bank investasi bernama robertson stevens.

Pada akhirnya, Nick berhasil mendapatkan pinjaman dari ayahnya senilai 200.000 dollar amerika, atau sekitar 2 miliar rupiah jika dikonversikan ke dalam mata uang rupiah pada tahun 2002.

Setelah berhasil mengamankan pinjaman tersebut, Nick akhirnya memulai perusahaannya, yaitu bekerjasama dengan perusahaan china yang bernama hotex, untuk membuat lensa camera 35 milimeter yang nantinya akan ditempatkan pada tali strap yang sebelumnya telah dibuat Nick.

Perusahaan china tersebut mampu memproduksi camera yang diinginkan Nick hanya dengan harga 3 dollar 5 sen, dan Nick menjualnya dengan harga 30 dollar.

Tidak butuh waktu lama, Nick akhirnya mendapatkan order pertamanya, yaitu sebanyak 100 buah camera untuk perusahaan olahraga asal jepang.

Sejak saat itu, pendapatan perusahaan yang baru saja didirikan oleh Nick terus meningkat. Pada tahun 2005, perusahaan Nick berhasil memperoleh pendapatan sebesar 350.000 dollar. 

Hingga selama beberapa tahun setelahnya, Nick terus memasarkan produknya secara agresif.

Pendapatan GoPro terus meningkat setiap tahunnya, dan pada awal 2010, GoPro menghasilkan 100 juta dollar, atau senilai 1 triliun rupiah sebagai profit mereka.

Dan pada saat itulah, perusahaan GoPro yang masih dalam bentuk startup menjadi perusahaan multi-milion dolar dalam waktu yang cukup singkat.

Pada akhir tahun 2012, perusahaan manufaktur asal taiwan bernama Foxconn melakukan investasi secara pribadi ke GoPro.

Mereka membeli saham GoPro sebanyak 8.88%, atau senilai 200 juta dollar, yang mana, pada saat itu, perusahaan GoPro sendiri telah bernilai 2,5 miliar dollar, di mana Nick memiliki lebih dari 50% sahamnya yang menjadikannya seorang billionair.

Mengapa GoPro Bisa Bangkrut?

Pada tahun berikutnya yaitu tahun 2014, Nick memutuskan untuk membuat perusahaannya go public. Dan seperti yang telah diprediksi, saham GoPro melonjak dengan pesat, dengan valuasi lebih dari 10 miliar dollar.

Di tahun berikutnya, yaitu tahun 2015, Nick melakukan patnership dengan perusahaan hockey NHL.

Nick diundang ke dalam sebuah acara talk show bernama Shark Tank milik NHL, di mana Nick melakukan dua investasi sekaligus untuk acara tersebut dengan total 125 ribu dolar.

Akan tetapi di balik itu semua, Nick seharusnya tidak mengambil langkah tersebut. Mengingat pada saat itu perusahaan GoPro sendiri sedang dalam masa pertumbuhan dan mengalami krisis internal.

Lalu apa yang terjadi? Bukankah GoPro baru saja mendapatkan pendanaan yang besar hingga valuasi mereka mencapai 10 miliar dollar?

Apakah ada sesuatu yang kita lewatkan?

Jawabannya tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah karena adanya miss menejemen dalam perusahaan Nick.. 

Salah satu yang paling mencolok adalah, gaji Nick pada saat itu terbilang sangat tinggi untuk ukuran perusahaan yang bisa dibilang masih baru.

Sebagai contoh, pada tahun 2014, Nick menjadi salah satu executive perusahaan dengan penghasilan tertinggi. Yaitu mencapai 285 juta dollar, atau kurang lebih senilai 3 triliun rupiah.

Kita tahu, tentunya banyak yang berpikir bahwa gaji tersebut adalah angka yang sangat fantastis untuk seorang executive perusahaan manapun bukan? Seperti halnya Nick ataupun Tim Cook.

Akan tetapi, perbedaan yang paling menonjol dari keduanya adalah, Apple memiliki sumber dana yang bisa dibilang tidak terbatas, sehingga mereka tetap mampu menggaji seorang executive dengan jumlah yang fantastis seperti halnya Nick.

Sebagai gambaran, dalam 12 bulan terakhir, Apple mampu menghasilkan profit kurang lebih 86 miliar dollar, sehingga untuk membayar gaji seorang executive sebesar 200 juta dollar, hanya kurang dari seperempat persen dari profit mereka, hal tersebut bukanlah hal yang sulit dan tidak akan akan berpengaruh banyak terhadap neraca perusahaan.

Sementara itu di sisi lain, gopro masih belum mendapatkan profit yang cukup besar dan signifikan, bahkan terbilang cukup kecil.

Tahun di mana Nick mendapatkan gaji seperempat miliar dollar, gopro hanya menghasilkan sekitar 128 juta dollar. Itu sama saja dengan gaji tim cook yang mendapatkan gaji dari Apple pada waktu itu, yaitu senilai 60 miliar dollar per tahun.

Pada tahun yang sama, Nick membeli sebuah yacht sepanjang 180 kaki, pesawat pribadi buatan gulfstream bermesin ganda, villa, dan beberapa koleksi mobil sport vintage lainnya.

Selain itu, Nick juga memberikan donasi sebesar 500 juta dollar untuk amal. Hal yang luar biasa bukan? Akan tetapi, donasi tersebut adalah salah satu cara miliarder yang tidak ingin membayar pajak penghasilan utuh.

Dari kasus di atas, kita mengetahui bahwa secara teknis, Nick seharusnya menunggu setidaknya 180 hari setelah dilakukan IPO, sebelum memutuskan untuk menjual sebagian sahamnya. 

mengingat GoPro membuka sahamnya untuk publik di pertengahan quarter kedua tahun 2014, maka seharusnya Nick tidak boleh menjual sahamnya hingga tahun 2015.

Akan tetapi, seperti yang telah kita ketahui, Nick sudah menghabiskan banyak uang di tahun 2014, sehingga, untuk mengakali pajak pendapatannya, maka Nick mendonasikan sebagian uangnya sebesar 500 juta dollar pada bulan oktober 2014.

Dan lagi-lagi Nick seharusnya tidak melakukan donasi tersebut, karena hal yang dilakukan Nick tersebut menimbulkan kemarahan dari para investor. Akan tetapi, para investor tidak berbuat apapun karena mereka sadar jika mereka mencegahnya, maka justru akan mencoreng nama para investor tersebut.

Maksudnya adalah, jika para investor mencegah Nick untuk menyumbangkan uangnya sebesar 500 juta dollar untuk donasi, maka mereka akan dianggap sebagai orang yang jahat bukan?

Sehingga, tidak ada satupun yang mencegah Nick saat dirinya melakukan donasi dengan total 450 juta dollar dan menghindari pajak capital gain saham yang dia jual.

Perlu digaris bawahi, Apa yang dilaukan Nick yaitu mendonasikan uang dalam jumlah yang besar bukanlah hal yang buruk. 

Yang menjadi masalah adalah, GoPro pada saat itu belum cukup kuat dan besar seperti halnya apple ataupun google untuk mengikuti gaya hidup Nick.

Seiring berjalannya waktu, gaya hidup Nick terus meningkat secara drastis.

begitupun dengan perusahaannya, biaya operasional GoPro juga kian meningkat karena Nick terus melakukan expand untuk setiap celah bisnis yang ada.

Dalam jarak waktu 8 bulan setelah IPO, GoPro telah memiliki 1600 karyawan, di mana sebelumnya mereka hanya memiliki kurang lebih 700 orang karyawan.

Demikian pula anggaran untuk perusahaan seperti halnya marketing campaign, photo shoot, dan biaya operasional lainnya terus bertambah.

Salah seorang direktur kreatif gopro pernah mengatakan bahwa, anggaran di seluruh perusahaan meningkat sepuluh kali lipat selama periode tersebut.

Karena biaya operasional gopro yang meledak, laba bersih perusahaan semakin hancur.

Pada kuartal ketiga dan keempat tahun 2015, laba gopro turun drastis dari 180 juta dolar dalam 12 bulan terakhir menjadi 37 juta dolar.

Sejak saat itu, GoPro kembali merugi. Pada tahun 2015, gopro menghabiskan lebih dari 400 juta dollar pertahun.

Sejak saat itu, Nick menjadi lebih transparan tentang pengeluaran pribadinya yang bisa dibilang sembrono dan tentang kejatuhan gopro.

Pelajaran Pertama

Selain dari kebiasaannya berbelanja produk-produk mewah, Nick juga membeberkan 4 alasan lain dibalik jatuhnya gopro. 

Salah satunya adalah, tentang bagaimana Nick melihat gopro di masa mendatang dapat menciptakan produk-produk yang lebih handal dibanding produk sekarang.

Tentu saja hal tersebut bukanlah hal yang negatif ataupun salah.

akan tetapi, akan menjadi masalah jika kita hanya melihat ke masa depan.

Mengapa? 

Karena hal tersebut akan membuat para karyawan dan investor kehilangan fokus terhadap produk yang saat ini sedang dikembangkan, sehingga membuat produk tersebut tidak sempurna.

Contoh yang paling sempurna adalah Gopro hero 5 black, di mana gopro melupakan produk inti mereka dan justru membuat sebuah drone. 

Gopro Hero 5 mendapatkan banyak tanggapan negatif dari para konsumen, salah satunya adalah kebocoran ketika berada di dalam air. Di mana ternyata pada saat itu gopro sedang mengalami masalah produksi sehingga uji coba produk tersebut tidak maksimal.

Untuk memperbaiki masalah produksi yang dialaminya, hal tersebut otomatis akan menghambat produksi gopro selanjutnya yang bertepatan dengan musim libur, di mana hal itu membuat gopro semakin terperosot ke dalam lubang yang lebih besar.

Pelajaran Kedua

pelajaran kedua menurut Nick adalah, menjadi hebat dalam satu hal, tidak berarti bahwa kita juga hebat dalam segala hal.

Salah satu kesalahan terbesar gopro adalah, mereka mencoba untuk melakukan expand terlalu cepat, salah satu contohnya adalah drone tersebut.

Pada tahun 2015 dan 2016, kita tahu bahwa drone sangatlah popular. 

dan mengingat bahwa camera pada drone saat itu adalah salah satu nilai jual terbesar mereka, gopro berpikir bahwa, dengan membuat drone, maka para konsumen akan mendapatkan all-in-one produk, akan tetapi, pada kenyataannya justru sebaliknya.

Di penghujung tahun 2016, gopro meluncurkan drone bernama karma.

Banyak yang berspekulasi bahwa karma adalah produk yang sangat sempurna, dan dapat mendorong penjualan gopro.

Akan tetapi, kenyataan berkata lain.

Banyak review dari user yang mengatakan bahwa drone tersebut sering kali kehabisan battery pada saat terbang dan langsung terjatuh dari langit.

Di sisi lain, kabar baiknya adalah, Nick telah sepenuhnya fokus terhadap perusahaan pada saat musibah tersebut terjadi.

Nick meminta agar drone tersebut ditarik kembali dari pasar hanya beberapa jam setelah rilis dan menawarkan refund kepada pembeli.

Hal yang tepat dilakukan, akan tetapi, tentu saja akan berdampak sangat buruk untuk perusahaan.

Tentunya situasi itu tidak akan terjadi jika saja Nick tidak tergesa-gesa untuk melakukan expand produknya.

Pelajaran ketiga

Fokuslah dengan apa yang telah kita kuasai. 

Berbicara tentang expansi dari gopro di atas, salah satu yang dibidik gopro adalah bidang entertainment.

Dan karena beberapa alasan, Gopro berinvestasi secara besar-besaran untuk membuat show mereka sendiri.

Beberapa di antaranya adalah: travel show bernama beyond places, acara keluarga bernama kids save the world, dan reality show bernama new york motocycle club.

Semua acara tersebut dijadwalkan untuk rilis di platform streaming gopro. 

Akan tetapi, ketika perusahaan mulai kehilangan banyak uang, Nick menyadari bahwa dia tidak lagi peduli dengan acara ataupun platform streaming tersebut.

Nick menyadari bahwa expansi bisnis yang dia lakukan bertentangan dengan apa yang dia sukai. 

hingga akhirnya, ia memutuskan untuk menutupnya dan mengalihkan dana dari project tersebut kembali kepada core bisnis yang dia sukai.

Pelajaran berharga terakhir yang dapat kita ambil adalah, simpel is better.

Jatuh bangunnya perusahaan GoPro, kita menyadari bahwa mereka mencoba untuk menjadi apa yang bukan dari diri mereka.

Gopro bukanlah produsen drone, juga bukanlah perusahaan media ataupun entertainment, dan tentu saja bukan perusahaan konglomerat yang membutuhkan ribuan karyawan.

Yang membuat gopro sukses adalah, menjadi produsen camera khusus yang handal dan menarik bagi mereka yang menyukai tantangan, dan olah raga extreme serta para vlogger.

Dan selama bertahun-tahun, gopro telah meninggalkan pasar tersebut karena berusaha memperluas bisnis mereka untuk mendapatkan lebih banyak audiens.

Dan, bukanlah hal yang mengejutkan jika pada akhirnya gopro merugi.

Hingga saat ini, Nick sendiri sedang berusaha untuk menyelamatkan perusahaannya, ia tidak mencari alasan dan membela diri tentang apa yang pernah ia lakukan.

Nick mengakui bahwa dirinya bersalah, dan ingin kembali ke apa yang membuat gopro menjadi produsen camera yang hebat.

Nick juga telah mengurangi beberapa tenaga kerja yang tidak benar-benar dibutuhkan, menghilangkan program expansi yang tidak perlu, dan menjadi lebih memperhatikan pengeluarannya.

Semua langkah yang dilakukan Nick tersebut sepertinya mulai membuahkan hasil, karena baru saja, gopro mendapatkan angka positif dalam periode 12 bulan terakhir, dan yang pertama kali sejak 2015.

Bukan hal yang tidak mungkin jika pada akhirnya gopro akan kembali berjaya seperti dulu. Akan tetapi, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Lalu, apakah menurut kalian gopro akan kambek?

Leave a Comment